Sunday, February 25, 2018

Sejarah Samarinda Kalimantan Timur

Sejarah Samarinda Kalimantan Timur     Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku berbahasa Belanda dengan judul “Geschiedenis van Indonesie“ karangan de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve, Den Haag, tahun 1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Pua Ado. Belanda yang mengikat perjanjian dengan kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di Samarinda Seberang pada tahun 1730 atau 62 tahun setelah Pua Ado membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya.  Namun, pembangunan Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas izin dari Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.  Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari Jawa dan Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun 1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus ’disatroni’ pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keama

Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku berbahasa Belanda dengan judul “Geschiedenis van Indonesie“ karangan de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve, Den Haag, tahun 1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Pua Ado. Belanda yang mengikat perjanjian dengan kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di Samarinda Seberang pada tahun 1730 atau 62 tahun setelah Pua Ado membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya. Namun, pembangunan Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas izin dari Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.


Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari Jawa dan Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun 1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus ’disatroni’ pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keamanan rakyat memang terjamin dengan terbentuknya Hansip(Pertahanan Sipil) yang menggantikan OPR (Organisasi Pertahanan Rakyat). Hansip mendukung keberadaan Polisi dan TNI.

Kendati terbilang maju pada zamannya, perubahan signifikan Kota Samarinda dimulai ketika wali kota Kadrie Oening diangkat dan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan No. Pemda 7/ 67/14-239 tanggal 8 November 1967. Ia menggantikan Mayor Ngoedio yang kemudian bertugas sebagai pejabat tinggi pemerintahan Jawa Timur di Surabaya. Kotamadya Samarinda pada tahun 1950 terbagi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang. Luas wilayahnya saat itu hanya 167 km². Kemudian pada tahun 1960 wilayah Samarinda diperluas menjadi 2.727 km² meliputi daerah Kecamatan Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja. Namun belakangan, kembali terjadi perubahan. Kota Samarinda hanya tinggal Kecamatan Palaran, Samarinda Seberang, Samarinda Ilir dan Samarinda Ulu. Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut menyerang Makasar dari laut, sedangkan Arupalaka yang membantu Belanda menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanudin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan " PERJANJIAN BONGAJA" pada tanggal 18 Nopember 1667.

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kerajaan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaan "SAMARINDA".

Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H" penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1980

Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur yang iuga dikenal sebagai pusat industri perkayuan di Kalimantan Timur serta kota pelabuhan yang penting. Letaknya tidak jauh dari Balikpapan namun kota berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa ini memiliki suasana yang agak berbeda dengan kota Balikpapan. Bagi wisatawan, Samarinda adalah tempat yang bagus untuk memulai perjalanan ke daerah pedalaman, menyusuri Sungai Mahakam. Kebanyakan penduduk di Samarinda adalah Orang Banjar dari Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar sering terdengar dalam percakapan sehari hari. Bahasa Banjar merupakan bahasa utama di Samarinda dan selain orang Banjar, kelompok masyarakat terbesar kedua di Samarinda adalah Orang Kutai dan pendatang lainnya.

Sebagian besar wilayah Kota Samarinda terletak di Utara Sungai Mahakam. Di tepi Sungai Mahakam ini berdiri sebuah masjid besar Masjid Raya Darussalam yang menjadi salah satu cirri atau simbol Kota Samarinda. Sekitar tahun 1990-an dilakukan pemugaran menyerupai sebuah mesjid dii Timur Tengah. Masjid berkonstruksi beton ini berlantai tiga dan dapar menampung sekitar 14.000 jemaah. Di lingkungan masjid ini dilengkapi taman, kolam dan perpustakaan.

Di wilayah Selatan Sungai Mahakam atau disebut juga dengan sebutan Samarinda Seberang, berjarak 8 km dari pusat kota, di Jl. Bung Tomo, terdapat pusat kerajinan sarung Samarinda. Kerajinan ini mulanya dibawa pendatang suku Bugis dari Sulawesi. Hampir di setiap perkampungan Suku Bugis di tempat ini dapat ditemukan pengrajin sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan para pengrajin adalah alat tradisional yang disebut 'gedokan'. Produk yang dihasilkan untuk satu buah sarung memakan waktu tiga minggu.

Kebun Raya UNMUL Samarinda merupakan hutan pendidikan dan kebun Botani yang menjadi salah satu obyek wisata alami. Memiliki beberapa karakteristik dengan dikembangkannya sebagai hutan pendidikan seluas 62,4 ha dan menjadi arboretum hutan buatan yang meliputi hutan alam, hutan tanaman daun lebar, hutan tanaman Konifer kebun bunga, kebun buah, kebun palma dan kebun bambu. Sisanya seluas 238,6 ha masih berupa hutan sekunder.

Berbagai sarana yang terdapat di lokasi ini adalah kolam pemancingan, sepeda air, restoran, penangkaran satwa seperti burung hutan tropis, buaya muara, orang utan dan lainnya. Selain sebagai tempat rekreasi kebun raya ini juga tempat olahraga dan jogging yang sehat karena udaranya bersih dengan terpeliharanya vegetasi di sekitarnya.Kawasan Citra Niaga merupakan kawasan pertokoan yang memadukan antara pedagang besar dan pedagang kecii dalam satu komplek dengan arsitektur Timur Tengah. Di sini wisatawan dapat menemukan berbagai suvenir Kalimantan Timur yang dljual dengan harga terjangkau.

Dan kawasan Citra Niaga pada sore hingga malam hari, wisatawan dapat menikmati keindahan tepian sungai Mahakam dengan suasana yang romantis. Melihat aktivitas sungai sebagai sarana transportasi untuk angkutan penumpang dan barang serta hasil bumi yang diperdagangkan melalui pelabuhan alur Sungai Mahakam tentunya mengasyikkan diselingi makan jagung bakar aneka rasa di sepanjang tepian ditemani beragam minuman ringan dan penghangat tubuh.Air Terjun Tanah Merah terletak sekitar 14 km dari pusat kota Samarinda, tepatnya di dusun Purwosari Kecamatan Samarinda Utara. Tempat wisata yang bersuasana teduh ini cocok bagi wisata keluarga karena dilengkapi dengan areal parkir kendaraan yang luas, pendopo istirahat, warung, pentas terbuka dan lain-lain tersedia di lokasi wisata ini. Untuk mencapai tempat ini dapat menumpang kendaraan umum trayek Pasar Segiri-Sungai Siring.


Sejarah Samarinda Kalimantan Timur     Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku berbahasa Belanda dengan judul “Geschiedenis van Indonesie“ karangan de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve, Den Haag, tahun 1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Pua Ado. Belanda yang mengikat perjanjian dengan kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di Samarinda Seberang pada tahun 1730 atau 62 tahun setelah Pua Ado membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya.  Namun, pembangunan Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas izin dari Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.  Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari Jawa dan Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun 1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus ’disatroni’ pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keama


Kawasan Wisata Budaya Pampang terletak sekitar 20 km dari Kota Samarinda merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan suku Dayak Kenyah. Kawasan Budaya Pampang terbentuk akibat perpindahan suku Dayak Kenyah dari Apokayan, di Kabupaten Bulungan melalui Muara Wahau, Long Segar, Tabang, Long Iram di Kabupaten Kutai tahun 1967.Sejak itulah mereka mulai merintis kehidupan di lokasi Pampang, Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara. Pampang merupakan alternatif bagi wisatawan yang memiliki waktu singkat namun ingin menyaksikan kehidupan budaya suku pedalaman khususnya Dayak Kenyah.

Di tempat ini pula dapat disaksikan atraksi kesenian seperti Kancet Punan letto, Kancet lasan (gong), tari Hudoq, tari Manyam tali, kancet Nyelama Sakai, tari Pemung Tawai, tari Burung Enggang, tari Lelene yang disuguhkan rutin pada hari Minggu siang hingga sore hari.Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan rnenggunakan kendaraan bermotor melalul jalan raya Samarinda-Bontang. Daya tarik yang dapat disaksikan di tempat ini adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah, yang digelar setiap hari Minggu siang sampai dengan sore.

Referensi


http://www.samarindakota.go.id/index.php?page=33

Buku Informasi Pariwisata Nusantara Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia

http://fatawisata.com/kalimantan-timur/1174-kota-samarinda

http://febyramadhany.blogspot.co.id/2011/08/sejarah-kota-samarinda.html

http://visitkotatepian.blogspot.co.id/p/sejarah-kota-samarinda.html