Friday, April 6, 2018

Biografi Amien Rais

 Biografi Amien Rais  Biodata    Nama: Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais, MA Lahir: Surakarta, 26 April 1944 Orang tua: Syuhud Rais dan Sudalmiyah Istri: Kusnariyati Sri Rahayu        Kisah Keluarga   AMIEN RAIS lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya,adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor departemen agama. Sang Ibu, Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Dia mengajar di sekolah guru kepandaian putri (SGKP) negeri dan sekolah bidan Aisyiyah Surakarta. Karena prestasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1985, Sudalmiyah mendapat gelar  ibu teladan sejawa tengah. Dia juga aktif di partai politik Masyumi ketika masa jayanya pada tahun 1950an. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo,dalah salah seorang pendiri muhammadiyah di gombong, jawa tengah. Jadi Amien Rais dilahirkan dari keluarga yang sangat kental warna muhammadiyahnya.Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adiknya  adalah abdul rozak, achmad dahlan, siti aisyah, dan siti asyiah. Mereka tumbuh dan dibesarkan di kampung kepatihan kulon. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Walaupun legas, tetapi yang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh secara alam, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Biodata

Nama: Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais, MA

Lahir: Surakarta, 26 April 1944

Orang tua: Syuhud Rais dan Sudalmiyah

Istri: Kusnariyati Sri Rahayu


Kisah Keluarga


AMIEN RAIS lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya,adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor departemen agama. Sang Ibu, Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Dia mengajar di sekolah guru kepandaian putri (SGKP) negeri dan sekolah bidan Aisyiyah Surakarta. Karena prestasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1985, Sudalmiyah mendapat gelar ibu teladan sejawa tengah. Dia juga aktif di partai politik Masyumi ketika masa jayanya pada tahun 1950an. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo,dalah salah seorang pendiri muhammadiyah di gombong, jawa tengah. Jadi Amien Rais dilahirkan dari keluarga yang sangat kental warna muhammadiyahnya.Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adiknya adalah abdul rozak, achmad dahlan, siti aisyah, dan siti asyiah. Mereka tumbuh dan dibesarkan di kampung kepatihan kulon. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Walaupun legas, tetapi yang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh secara alam, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Sewaktu masih duduk dibangku SD, Amien kecil bercita-cita menjadi wali kota. Cita-cita ini sangat dipengaruhi oleh kekagumannya pada Muhammad Saleh yang menjabat wali kota solo waktu itu. Muhammad Saleh adalah seorang muslim yang taat. Dia sering memberikan pengajian di balai muhammadiyah solo. Wali kota asal Madura ini sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Namun setelah SMA, cita-cita Amien berubah. Dia ingin jadi duta besar. Mungkin cita-cita ini yang ikut memengaruhinya untuk memilih jurusan hubungan internasional ketika memasuki perguruan tinggi.

Amien Rais menikah pada 9 februari 1969, dengan seorang gadis yang sudah dikenalinya sejak mereka masih sama-sama kanak-kanak, Kusnasriyati Sri Rahayu. Selama sepuluh tahun pertama pernikahannya dia belum dikaruniai anak, meskipun dia sudah berkonsultasi dengan banyak dokter spesialis kandungan di Solo, Yogya, bahkan ketika berada di Chicago. Sampai suatu saat mereka bedua mendapat kesempatan naik haji ke Mekah. Di depan Kabah mereka berdua memanjatkan doa, memohon kepada Allah agar memenuhi keinginan mereka akan keturunan. Waktu itu mereka sedang melakukan penelitian di Mesir. Setelah kembali ke Kairo, dua bulan kemudian sang istri hamil. Bagi mereka berdua, kejadian itu merupakan mukjizat dan karunia Allah semata. Setelah anak yang pertama, selanjutnya setiap dua tahun sang istri hamil lagi. Kini mereka sudah dikaruniai lima orang anak, tiga putra dan dua putrid. Nama-nama mereka diambil dari Al-Quran dan dikaitkan dengan kenangan dan pristiwa yang menyertai kelahirannya. Yang pertama diberi nama Ahmad Hanafi, kemudian Hanun Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan terakhir Ahmad Baihaki.

Kusnasriyati adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Untuk mengisi kesibukannya, dia mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) di sebelah rumahnya. Karena ketekunannya, TK ini menjadi besar dan terkenal. Dia juga membuka kedai sederhana yang diminati banyak mahasiswa. Dilihat dari penampilannya yang sederhana, termasuk gaya bicara yang sederhana, dia tidak beda dengan ibu rumah tangga lainnya. Tetapi, dimata Amien Rais, dia adalah wanita luar biasa. Keberanian dan ketegaran yang dimiliki Amien Rais ternyata tidak lepas dari peran sang istri.


Riwayat Pendidikan


Pendidikan Amien Rais, mulai dari TK sampai SMA, semuanya dijalani di sekolah Muhammadiyah, di kota kelahirannya, Solo. Menurut Amien, karena kecintaan sang ibu pada sekolah Muhammadiyah, maka seandainya ketika itu sudah ada perguruan tinggi Muhammadiyah, pasti ibunya akan memintanya untuk kuliah di situ. Sekolah Dasar diselesaikan tahun 1956, kemudian SMP pada tahun 1959 dan SMA pada tahun 1962. Disamping sekolah umum, dia juga mengikuti pendidikan agama di pesantren Mambaul Ulum. Dia juga pernah nyantri di Pesantren Al Islam.

Setelah tamat SMA, dia melanjutkan studinya di Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM). Dalam waktu yang bersamaan. Dia juga terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kuliah paralel ini dijalaninya sampai munculnya larangan kuliah ganda oleh pemerintah.Tahun 1968 Amien menyelesaikan studinya di UGM dengan tugas akhir berjudul Mengapa Politik Luar Negeri Israel Berorientasi Pro Barat. Dia lulus dengan nilai A. kemudian dia melanjutkan pendidikan pascasarjana di university of Notre Dame, Indiana, yang diselesaikan tahun 1974 dengan gelar MA. Tesisnya mengenai politik luar negeri Anwar Sadat yang waktu itu sangat dekat dengan Moskow. Itu sebabnya Amien juga harus mendalami masalah komunisme, Uni Soviet, dan Eropa Timur.

Minatnya yang sangat besar dalam masalah timur tengah tetap tumbuh. Setelah pulang ketenah air sebentar, dia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program Doktor di university of Chicago dengan mengambil bidang studi timurtengah. Dia berhasil meraih gelar doctor padatahun 1981, dengan disertasi berjudul The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise and Resurgence (Ikhwanul Muslimin di Mesir : Kelahiran,Keruntuhan,dan Kebangkitannya kembali). Penelitian untuk menyusun disertasinya dilakukan di Mesir dalam waktu sekitar satu tahun. Selama berada di Mesir, waktunya dimanfaatkan juga untuk menjadi mahasiswa luar biasa di Departemen Bahasa Universitas Al-Azhar, Kairo.

Setelah menyelesaikan studinya, dia kembali ke almamaternya. Dia mengasuh mata kuliah Teori Politik Internasional, Sejarah, dan Diplomasi di Timur Tengah. Dia juga dipercaya mengajar mata kuliah teori-teori Sosialisme. Yang paling menyenangkannya adalah mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik.


 Biografi Amien Rais  Biodata    Nama: Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais, MA Lahir: Surakarta, 26 April 1944 Orang tua: Syuhud Rais dan Sudalmiyah Istri: Kusnariyati Sri Rahayu        Kisah Keluarga   AMIEN RAIS lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya,adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor departemen agama. Sang Ibu, Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Dia mengajar di sekolah guru kepandaian putri (SGKP) negeri dan sekolah bidan Aisyiyah Surakarta. Karena prestasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1985, Sudalmiyah mendapat gelar  ibu teladan sejawa tengah. Dia juga aktif di partai politik Masyumi ketika masa jayanya pada tahun 1950an. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo,dalah salah seorang pendiri muhammadiyah di gombong, jawa tengah. Jadi Amien Rais dilahirkan dari keluarga yang sangat kental warna muhammadiyahnya.Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adiknya  adalah abdul rozak, achmad dahlan, siti aisyah, dan siti asyiah. Mereka tumbuh dan dibesarkan di kampung kepatihan kulon. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Walaupun legas, tetapi yang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh secara alam, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

Sebagai Aktivis


Sejak belia Amien Rais sudah terlibat dalam berbagai gerakan. Kecintaannya pada organisasi diawali dari keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon. Dia dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin sebuah regu yang terdiri dari tujuh orang yang diberi nama regu Rajawali. Regu yang dipimpinnya selalu memenangkan barbagai perlombaan, seperti lomba tali-temali, morse, membuat jembatan, sampai pada lomba masak-memasak. Di sinilah Amien kecil mulai menyadari kekuatan kebersamaan dan makna kepemimpinan. Ketika menjadi mahasiswa, dia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan pernah dipercaya untuk menduduki jabatan sekertaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Yogyakarta.Disamping kegandrungannya berorganisasi, Amien Rais juga sudah menulis artikel sejak belia. Berkat ketekunannya di dunia Jurnalistik, oleh tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung bersama-sama dengan Harian Kami di Jakarta, dia pernah mendapat anugrah Zainal Zakse Award.

Sepulang dari studi di Amerika tahun 1981, Amien Rais kembali ke habitatnya di Muhammadiyah. Pengaruh pemikirannya cepat meluas, tidak hanya dikalangan Muhammadiyah tetapi juga menerobos dunia kampus dan aktivis masjid. Pada saat itu, dia tergolong Intelektual muda Islam yang bergelar Doktor sains modern yang fasih berbicara mengenai wacana keagamaan. Berbagai pemikirannya segera menjadi bahan diskusi dan rujukan generasi muda kampus, khususnya dikalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).Aktifitas Amien di Muhammadiyah semakin intens setelah Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta (1985). Saat itu, dia dipercaya sebagai ketua Majelis Tablig. Tahun 1988 dia dipercaya menjadi ketua pusat pengkajian strategi dan kebijakan (PPSK). PPSK merupakan lembaga kajian yang cukup bergengsi. Selanjutnya, Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta (1990) mengantarkannya sebagai salah seorang wakil ketua PP Muhammadiyah. Ketika ketua PP Muhammadiyah K.H. Achmad Azhar Basyir meninggal dunia (28 juni 1994), Amien ditetapkan sebagai pejabat ketua oleh pleno PP Muhammadiyah, menggantikan Almarhum. Selanjutnya pada Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh (1995), Amien terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah (1995-2000), dengan dukungan suara 98.5%.

Terpilihnya Amien sebagai orang nomor satu di Muhammadiyah menjadi fenomena yang menarik. Tampilnya Amien menandai pergeseran pola kepemimpinan yang cukup signifikan, dari figur ulama/kiai kepada cendikiawan/intelektual. Sejak berdirinya, Muhammadiyah selalu dipimpin oleh tokoh kiai atau ulama. Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan sampai dengan K.H. Achmad Azhar Basyir, semuanya adalah figur ulama. Amien Rais, ketua Muhammadiyah ke-13, adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan bukan agama, sehingga dia lebih dikenal sebagai seorang cendikiawan dari pada seorang ulama/kiai.

Kelahiran Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) tidak dapat dilepaskan dari peran Amien Rais. Dia masuk tim persiapan pendirian ICMI bersama Sembilan cendekiawan lainnya, antara lain Muslimin Nasution, Dawam Rahardjo, Sri Bintang Pamungkas, Djamaluddin Ancok, dan Ahmad Watik Pratiknya. Bahkan, jauh hari sebelum ICMI menemukan bentuknya, ketika para mahasiswa dari Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, berjuang mengumpulkan tanda tangan dalam rangka mencari dukungan bagi rencana mereka mendirikan wadah bagi cendekiawan muslim Indonesia, Amien sudah terlibat. Ketika anak-anak itu menemui Dawam Rahardjo di Jakarta, mereka disarankan Dawam untuk ke Yogyakarta sembari berpesan, “kalau ke Yogya, cari saja Amien Rais, karena dialah the godfather-nya cendekiawan Yogya. Kalau Amien ikut, yang lainnya akan katut (ikut serta).”

Saat ICMI resmi terbentuk, Amien ditunjuk sebagai salah seorang asisten ketua umum bersama H. Muhammad Thohir, Moestahid Astari, Haryono Dhanutirto, Quraish Sihab, Amin Aziz. Kemudian, saat terjadi restrukturisasi organisasi, Amien dipercaya untuk menjabat ketua dewan pakar, sebuah jabatan yang sangat strategis dan bergengsi. Di sini dia bergaul dekat dengan Ahmad Tirtosudiro dan Sayidiman Suryohadiprojo, dua orang jenderal (purnawirawan) yang cukup berpengaruh. Dia juga bergaul dengan beberapa orang menteri, seperti Wardiman dan Haryanto Dhanutirto, disamping para pengusaha nasional, seperti Fadel Muhammad dan Aburizal Bakrie. Hubungannya dengan Yusuf Hasyim, seorang tokoh senior NU yang juga paman Gus Dur, semakin dekat. Dia juga menjadi bersahabat dengan Habibie, sang ketua Umum. Dia sering bertandang ke rumah Habibie, bahkan dia sempat mendampingi Habibie dalam kunjungan ke Paris dan beberapa Negara Timur Tengah, yang ketika itu masih sebagai Menristek. Kareana menyadari adanya tekanan yang sangat kuat dari pak Harto pada Habibie, akhirnya Amien memutuskan untuk mundur dari jabatan ketua dewan pakar ICMI. Dua bulan setelah pak Harto lengser, tepatnya 18 juli 1998, dalam Rakornas ICMI, bertempat di Hotel Cempaka Jakarta, Amien Rais dikukuhkan kembali menjadi ketua Dewan Pakar ICMI. Ahmad Tirtosudiro selaku pejabat ketua ICMI menjelaskan bahwa meskipun Amien telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan ketua dewan pakar, tetapi ICMI tidak pernah memprosesnya, sehingga jabatan tersebut tetap dibiarkan kosong. Saat ini, Dewan Pakar ICMI menegaskan menolak pengunduran dirinya.

Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) adalah lembega pengkajian dan penelitian dibawah yayasan mulia Bangsa Yogyakarta. Sejumlah tokoh penting bergabung dilembaga ini, diantaranya Moeljoto Djojomartono, Soedjatmoko, Ahmad Baiquni, Kuntowijoyo, Bambang Sudibyo, Umar Anggara Jenie, Ichlasul Amal, Yahya A. Muhaimin, Affan Gafar, A. Syafii Maarif, dan Amien Rais yang dipercaya untuk memimpinnya.Setelah Pak Soeharto lengser, dengan pernyataan “berhenti” dari jabatan Presiden Republik Indonesia, pada 21 Mei 1998, Prof. Dr. B. J. Habibie dilantik menjadi Presiden RI ketiga. Sebenarnya, hati kecil Amien Rais ingin kembali ke Muhammadiyah, untuk menekuni kegiatan Dakwah, pendidikan, dan Sosial. Akan tetapi, keinginannya harus berhadapan dengan tuntutan dan harapan yang terlanjur dipukulkan ke pundaknya. Setelah berkonsultasi dengan teman-temannya dan melakukan perenungan yang mendalam akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjuangan politiknya melalui partai politik. Dia kemudian mendirikan sebuah partai politik yang plural, lintas etnik, dan lintas agama. Partai Amanat Nasional (PAN) dideklarasikan pada 23 Agustus 1998, di Istora Senayan. Pada Pamilu 1999 partai ini masuk lima besar. Setelah bersaing ketat melalui voting, Amien akhirnya terpilih sebagai ketua MPR RI.


Pendidikan


Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada (lulus 1968)

Notre Dame Catholic University, Indiana, USA (1974)

Al-Azhar University, Cairo, Mesir (1981)

Chicago University, Chicago, USA (gelar Ph.D dalam ilmu politik 1984)

George Washington University (postdoctoral degree, 1988-1989)


Perjalanan karir


Dosen pada FISIP UGM (1969-1999)

Pengurus Muhammadiyah (1985)

Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1991-1995)

Wakil Ketua Muhammadiyah (1991)

Direktur Pusat Kajian Politik (1988)

Peneliti Senior di BPPT (1991)

Anggota Grup V Dewan Riset Nasional (1995-2000)

Ketua Muhammadiyah (1995-2000)

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (1999-sekarang)

Ketua MPR (1999-2004)