Monday, April 16, 2018

Monaco Negara Tanpa Masalah Lingkungan

  Monaco, Negara Tanpa Masalah Lingkungan     Monaco mungkin satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki masalah lingkungan. Mulai dari situs CIA hingga ke catatan PBB, negara ini tak terdokumentasikan bermasalah dengan polusi apapun. Bahkan asap knalpot pun tak tercium disini. Meski dengan GDP perkapita US $ 30 ribu, penduduk negara Grimaldi tersebut dijamin mampu memiliki kendaraan pribadi.  Jalan-jalan di Monte Carlo, Monaco memang mulus tanpa retakan sedikit pun. Namun tetap saja jarang mobil terlihat di sana. Bahkan dalam jam-jam sibuk sekalipun, penduduknya terlihat lebih senang berjalan kaki. Mengikis jejak emisi karbon yang biasanya banyak dihasilkan dari kendaraan bermotor di kota-kota dunia. Para pejalan kaki memang dimanja disini.  Kemewahan ini saya rasakan sendiri saat akan menyeberang dari tempat konferensi UNEP di Forum Grimaldi menuju Hotel Fairmont. Saya sengaja menunggu mobil sport Peugeot coklat muda yang akan melintas. Kebiasaan ini terbawa dari Jakarta, kota dimana para pejalan kaki harus memiliki mawas diri yang tinggi jika ingin selamat.  Alih-alih langsung melaju, mobil itu justru ikut berhenti. Tak


Monaco mungkin satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki masalah lingkungan. Mulai dari situs CIA hingga ke catatan PBB, negara ini tak terdokumentasikan bermasalah dengan polusi apapun. Bahkan asap knalpot pun tak tercium disini. Meski dengan GDP perkapita US $ 30 ribu, penduduk negara Grimaldi tersebut dijamin mampu memiliki kendaraan pribadi.

Jalan-jalan di Monte Carlo, Monaco memang mulus tanpa retakan sedikit pun. Namun tetap saja jarang mobil terlihat di sana. Bahkan dalam jam-jam sibuk sekalipun, penduduknya terlihat lebih senang berjalan kaki. Mengikis jejak emisi karbon yang biasanya banyak dihasilkan dari kendaraan bermotor di kota-kota dunia. Para pejalan kaki memang dimanja disini.


Kemewahan ini saya rasakan sendiri saat akan menyeberang dari tempat konferensi UNEP di Forum Grimaldi menuju Hotel Fairmont. Saya sengaja menunggu mobil sport Peugeot coklat muda yang akan melintas. Kebiasaan ini terbawa dari Jakarta, kota dimana para pejalan kaki harus memiliki mawas diri yang tinggi jika ingin selamat.

Alih-alih langsung melaju, mobil itu justru ikut berhenti. Tak terasa sekitar 3 menit kami saling tunggu. Akhirnya saya tersadar dan buru-buru menyeberang. Sambil melewati mobil itu, saya lambaikan tangan berterima kasih.

Iseng-iseng, saya perhatikan jalan raya Monte Carlo selama perjalanan dari hotel tempat menginap di Nice, Prancis. Pada jam-jam sibuk, mobil yang melintas tetap dapat dihitung dengan jari. Jalan baru ramai saat iring-iringan mobil Kepala Negara Monaco, Pangeran Albert II melintas.

Monaco telah lama dikenal sebagai negara Eropa yang pro lingkungan. Tata kota dengan jalan sempit berkelok diimbuhi tata kota yang apik, membuat penduduknya lebih senang berjalan kaki. Berbanding terbalik dengan biaya hidup yang tinggi, tarif transportasi umum Monaco justru murah. Hanya dengan 1 Euro saya sudah dapat berkeliling negara ini bahkan menyeberang ke Nice, Prancis.

Kenyamanan ini berasal dari kebijakan Pemerintah Monaco memberikan subsidi tinggi pada tarif angkutan umum. Hasilnya terlihat pada 2007, saat jumlah pengguna transport umum negara itu meningkat hingga 20 %.

Kebijakan pro lingkungan Monaco juga berlaku lewat peraturan Haute Qualite Environnementale alias Kualitas Tinggi Lingkungan Hidup. Kebijakan ini mengharuskan setiap bangunan di Monaco menghemat 10 persen dari energi yang digunakan. Penghematan ini dihitung terutama lewat pemakaian energi listrik dan konsumsi air. Contoh paling nyata terlihat lewat Gedung Forum Grimaldi tempat konferensi UNEP diselenggarakan. Semua keran air disini bersifat otomatis, yang langsung berhenti saat tangan diangkat dari wastafel.

Manajemen antisipasi bencana juga terlihat lewat infrastruktur yang menguatkan tembok-tembok batu karang di seluruh Monaco. Secara sejarah, Moncao yang dikuasai Dinasti Grimaldi telah dekat dengan isu penyelamatan lingkungan. Pangeran Albert I terkenal aktif dalam pencegahan penangkapan ikan berlebih. Sementara Pangeran Albert II yang kini berkuasa kerap mengunjungi Kutub Utara guna mengecek langsung dampak pemanasan global. Kesadaran lingkungan berpadu dengan kekuatan dana, telah membuat udara, air dan tanah Monaco sebersih hutan perawan.


Seperti Apa Hidup di Monaco?


Berbeda dengan kota-kota lainnya yang tersebar di sepanjang French Riviera, Monaco terlihat lebih luks dan elegan. Begitu masuk kota Monaco, sepanjang jalan dipenuhi dengan deretan hotel, toko dan butik mewah keluaran perancang dunia terkenal. Mobil-mobil mewah, seperti Jaguar, Porsche, Mercedez Benz ataupun BMW seri terbaru, berseliweran di jalan raya bersaing dengan puluhan yacht maupun kapal-kapal mewah berukuran sedang yang berjejer rapi di dermaga, yang terletak di seberang jalan yang berbatasan dengan pantai.


The Wealthy Lifestyle in Monaco.


Sebagai negara yang dikenal berbiaya hidup tertinggi di kawasan French Riviera, Monaco menjadi tempat tinggal orang-orang jet set maupun tempat tujuan para wisatawan kaya yang ingin memanjakan diri.

Orang miskin dilarang berada di Monaco. Demikianlah kira-kira salah satu peraturan tak tertulis yang berlaku di kerajaan Monaco. Potret Monaco sebagai negara yang penuh glamor pun tergambar saat detikcom berkesempatan mengunjungi negara mungil yang terkenal akan tempat judinya yang mewah itu.


Biaya Hidup


Biaya hidup untuk expatriates di Monaco terbilang sangat tinggi dibandingkan Negara lain di dunia. Sebagai contoh bahan pangan di Monaco lebih mahal 15% dibanding di US, kebutuhan rumah tangga 136,4% lebih mahal dibanding di UK, dan biaya transportasi sekitar 135% lebih mahal dibanding di India.

  Monaco, Negara Tanpa Masalah Lingkungan     Monaco mungkin satu-satunya negara di dunia yang tak memiliki masalah lingkungan. Mulai dari situs CIA hingga ke catatan PBB, negara ini tak terdokumentasikan bermasalah dengan polusi apapun. Bahkan asap knalpot pun tak tercium disini. Meski dengan GDP perkapita US $ 30 ribu, penduduk negara Grimaldi tersebut dijamin mampu memiliki kendaraan pribadi.  Jalan-jalan di Monte Carlo, Monaco memang mulus tanpa retakan sedikit pun. Namun tetap saja jarang mobil terlihat di sana. Bahkan dalam jam-jam sibuk sekalipun, penduduknya terlihat lebih senang berjalan kaki. Mengikis jejak emisi karbon yang biasanya banyak dihasilkan dari kendaraan bermotor di kota-kota dunia. Para pejalan kaki memang dimanja disini.  Kemewahan ini saya rasakan sendiri saat akan menyeberang dari tempat konferensi UNEP di Forum Grimaldi menuju Hotel Fairmont. Saya sengaja menunggu mobil sport Peugeot coklat muda yang akan melintas. Kebiasaan ini terbawa dari Jakarta, kota dimana para pejalan kaki harus memiliki mawas diri yang tinggi jika ingin selamat.  Alih-alih langsung melaju, mobil itu justru ikut berhenti. Tak

Konsep Waktu


Negara Monaco menganut konsep P-Time atau yang dimaksud dengan konsep waktu Polikronik. Masyarakat yang memakai konsep waktu Polikronik merupakan masyarakat yang tidak terlalu menghargai waktu. Mereka cenderung lebih sering menunda-nunda pekerjaan dibandingan masyarakat yang menggunakan konsep waktu Monokronik. Ketiadaan rencana kegiatan yang matang sering menandai kehidupan penganut konsep waktu polikronik. Oleh karena itu, mereka juga cenderung fatalistic, menerima nasib yang mereka anggap sebagai takdir yang tidak bisa mereka hindari.

Dalam budaya polikronik, orang-orang dan hubungan-hubungan lebih penting daripada janji atau appointment yang sudah dibuat sebelumnya. Pertemuan akan berlangsung terus dengan mengabaikan jadwal waktu, jika apa yang dilakukan belum tuntas.

Bagi penganut waktu polikronik adalah absurd untuk selalu mengasosiasikan waktu yang tidak digunakan secara produktif (untuk menghasilkan uang) dengan kerugian, misalnya waktu yang digunakan untuk berkumpul dan bercengkrama dengan kerabat atau sahabat, saat melakukan ritual agama, saat kita malakukan hobi kita, atau saat kita berleha-leha untuk menyenangkan diri.

Budaya Kerja


Di Monaco perilaku kita harus dijaga dan dalam bisnis biasanya lebih formal.

Ketika nanti ada pertemuan antar perusahaan, kita biasanya harus belajar budaya perusahaan tersebut.

Ketika ada pertemuan bisnis, bersalaman apabila sudah kenal (berteman) biasanya cipika-cipiki.

Para karyawan juga tidak perlu sungkan untuk menyampaikan perbedaan aspirasi.

Ketika berkomunikasi, kontak mata secara langsung adalah keharusan.

Hindari melebih-lebihkan sesuatu, karena orang Monegasque tidak suka hiperbola.

Kalau ada meeting, jadwal meeting biasanya diberitahu sekitar 2-3 minggu lebih awal.

Jam Kerja biasanya dimulai pukul 09.00-12/12.30 dan 13.30-17.30/18.00.

Budaya Sosial


Pergi makan keluar bersama dengan suasana santai adalah hal yang sering dilakukan.

Ketika sedang makan bersama, jangan bicarakan tentang agama, politik, uang, dan bisnis.

Waktu makan adalah waktu bersosialisasi dan jangan sampai menyinggung perasaan seseorang.

Ketika makan juga lebih baik dihabiskan semua kalu tidak dianggap kurang sopan.

Ketika diundang ke rumah orang diharapkan membawa kado seperti bunga atau cokelat yang mahal (apabila tuan rumahnya perempuan) atau wine yang berkualitas (apabila tuan rumah laki-laki).