Friday, May 11, 2018

Sejarah Yerusalem

Sejarah Jerusalem   Jerusalem dalam bahasa Yahudi (Hebrew) Yerushaláyim, juga dulu ada yg menyebut Tsiyown atau Zion, atau dalam masa Romawi disebut Ilya atau Aelia Capitolina, kemudian dalam bahasa Arab dikenal juga sebagai: al-Quds atau Baitul Maqdis [al-Sharif], "The Holy Sanctuary" merupakan kota tua penuh dengan cerita sejarah kontroversi dari sejak zaman purba hingga kini yang melibatkan 3 agama samawi besar di dunia yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Kontroversi ini berpusat pada satu titik di dalam kota Jerusalem yaitu: Kubah As Sakra atau Dome of Rock di dalam kawasan Masjidil Aqsa, yang mana di dalamnya terdapat batu besar.    Menurut agama Islam di Masjidil Aqsa inilah Rasulullah SAW melakukan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Menurut agama Nasrani, Jacob (Nabi Yakub) pernah tidur di batu besar, yg kini berada dalam Dome of Rock tsb, dan bermimpi melihat tangga menuju langit. Agama Nasrani pun meyakini bahwa di batu itulah tempat Abraham (Nabi Ibrahim) mengurbankan anaknya yaitu Ishak (yg kita yakini anak yg diqurbankan adalah Ismail dan tempatnya di Makah). Sementara menurut orang-orang Yahudi meyakini bahwa Luh-luh Nabi Musa (kitab Taurat yg asli), yg dulu pernah hilang, berada tepat di bawah Dome of Rock. Dan orang-orang Yahudi meyakini bahwa Jerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka yg dinyatakan melalui Nabi Musa, sehingga mereka meyakini bahwa mereka punya hak penuh atas tanah Jerusalem tersebut. Sementara bangsa Arab Palestina meyakini bahwa mereka adalah penduduk asli dari tan

Jerusalem dalam bahasa Yahudi (Hebrew) Yerushaláyim, juga dulu ada yg menyebut Tsiyown atau Zion, atau dalam masa Romawi disebut Ilya atau Aelia Capitolina, kemudian dalam bahasa Arab dikenal juga sebagai: al-Quds atau Baitul Maqdis [al-Sharif], "The Holy Sanctuary" merupakan kota tua penuh dengan cerita sejarah kontroversi dari sejak zaman purba hingga kini yang melibatkan 3 agama samawi besar di dunia yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Kontroversi ini berpusat pada satu titik di dalam kota Jerusalem yaitu: Kubah As Sakra atau Dome of Rock di dalam kawasan Masjidil Aqsa, yang mana di dalamnya terdapat batu besar.


Menurut agama Islam di Masjidil Aqsa inilah Rasulullah SAW melakukan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Menurut agama Nasrani, Jacob (Nabi Yakub) pernah tidur di batu besar, yg kini berada dalam Dome of Rock tsb, dan bermimpi melihat tangga menuju langit. Agama Nasrani pun meyakini bahwa di batu itulah tempat Abraham (Nabi Ibrahim) mengurbankan anaknya yaitu Ishak (yg kita yakini anak yg diqurbankan adalah Ismail dan tempatnya di Makah). Sementara menurut orang-orang Yahudi meyakini bahwa Luh-luh Nabi Musa (kitab Taurat yg asli), yg dulu pernah hilang, berada tepat di bawah Dome of Rock. Dan orang-orang Yahudi meyakini bahwa Jerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka yg dinyatakan melalui Nabi Musa, sehingga mereka meyakini bahwa mereka punya hak penuh atas tanah Jerusalem tersebut. Sementara bangsa Arab Palestina meyakini bahwa mereka adalah penduduk asli dari tanah ini sebelum Bani Israil (orang Yahudi) datang ke tanah ini. Hal inilah yang menjadikan pergolakan antara bangsa Arab Palestina dan bangsa Yahudi Israel hingga sekarang.

Kota Jerusalem - Perjalanan Sejarah Al-Quds

Pertama : Siapa yang membangun Masjid Al-Aqsha ?

Ketika membahas masalah al-Aqsha dari sisi sejarah, maka untuk pertama kali kita membutuhkan jawaban, siapa yang membangun Masjid Al-Aqsha ?

Masalah ini menjadi perbincangan diantara para ilmuwan dan sejarawan muslim. Mereka mengetengahkan sejumlah dalil dan bukti-bukti dan penelitian terhadap hadits-hadits yang berbicara tentang Masjid Al-Aqsha. Setidaknya ada tiga pendapat mengenai hal ini,

1. Para malaikatlah yang membangun Masjid Al-Aqsha

2. Nabi Adam AS

3. Nabi Ibrahim AS

Namun pendapat pertama yang menyatakan, bahwa para malaikat yang membangun Masjid Al-Aqsha dilemahkan oleh para ulama. Mereka lebih condong bahwa yang membangun Masjid Al-Aqsha adalah seorang menusia, bukan para malaikat. Karena para malaikat mempunyai rumah sendiri dan membangunya di langit, yaitu Baitul Makmur sebagai ganti Ka’bah di bumi.

Oleh karena itu, kami menghindari pendapat pertama ini dan kembali mengkaji pendapat kedua dan ketiga. Yaitu Nabi Adam AS dan Ibrahim AS.

Untuk itu marilah bahas hadits-hadits di bawah ini.

1. Hadits dari Abu Dzar Al-Gifari ia berkata, aku bertanya kepada Rasulallah SAW, masjid apa yang paling pertama dibangun di muka bumi ini ?. Rasul menjawab, Masjid Al-Haram. Kemudian apa ? Lalu Masjid Al-Aqsha. Abu Dzar bertanya lagi, berapa tahun antara keduanya ? Nabi menjawab, 40 tahun. (Muttafaq Alaih).

Dari hadits ini diperoleh keterangan bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun setelah Masjid Al-Haram berselang waktu 40 tahun. Kalimat وضع dalam hadits menunjukan secara jelas penamaan dan penentuan bahwa tempatnya di Makkah Mubarokah dan tempat yang berdampingan dengan Makkah.

Pendapat pertama menyebutkan, bahwa Ibrahimlah yang membangun Masjid Al-Aqsha, karena yang membangun Ka’bah adalah Nabi Ibrahim AS. Dan jarak antara keduanya sangat dekat. Yaitu selam 40 tahun. Sementara bahwa Nabi Ibrahim tinggal di Baitul Maqdis (Palestina) sementara dalam sejarah disebutkan, Nabi Ibrahim masuk Masjid Al-Aqsha dan shalat di dalamnya serta bertemu dengan Raja Kaum Yabus yang sholeh, “Raja Jujur”. Bersambung … (asy)

2. Allah Ta’ala berfirman “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Akan tetapi ayat ini menunjukan bahwa Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah beliau tidak membangun dari awal, tetapi meninggikan bangunan yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian Ibrahim hanya merenovasi saja atau memperbaharui yang sudah ada, bukan membuatnya dari tidak ada. Hal ini membuktikan bahwa Ka’bah sudah ada sebelum Nabi Ibrahim AS. Apalagi kalau kita membaca kisah Nabi Ismael ketika ditinggalkan bersama ibunya di padang Makkah : “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Nabi Ibrahim menamakan lembah Makkah dengan Baitul Atiq al-Muharram. Menunjukan bahwa Ka’bah Musyarofah sudah ada pada saat itu yang menyaksikan kelahiran anaknya Nabi Ismael. Dan diketahui bersama bahwa Nabi Ismael bersama ayahnya membangun Baitullah Al-Haram. Dengan demikian, gugurlah pihak yang berdalil dengan ayat-ayat Qur’an bahwa yang membangun Masjid Al-Aqsha adalah Nabi Ibrahim AS dan menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun sebelumnya. Maka kuatlah yang mengatakan bahwa yang membangun Masjid Al-Aqsha adalah Nabi Adam AS.

Kemudian dalam makalah Dosen fakultas teknik Universitas Nasional Al-Najah, DR. Haitsam Rutut yang dicetak majalah Kajian Baitul Maqdis terbitan tahun 2005, Rutut mengungkapkan ada kesamaan antara bangunan Ka’bah dan bangunan Masjid Al-Aqsha. Dengan bantuan program teknik tiga dimensi dan dengan melupakan jarak antara keduanya. Rutut menjelaskan, ada kesamaan antara kedua bangunan ini, ditinjau dari ke empat sudutnya. Ia menjelaskan hal tersebut dengan bantuan denah dan gambar. Bukti-bukti secara ilmiah ini mendukung pendapat yang menyatakan, Masjid Al-Aqsha. Nabi Adam lah yang membangun kedua masjid ini berdasarkan wahyu dari Allah, dengan batas-batasnya. Inilah batas-batas yang pelihara hingga kini atas Masjid Al-Aqsha seluas 142-144 hektar.

Kemiripin Teknik banunan antara Masjid Al-Aqsha yang asli sebelum perluasan pada zaman Bani Umayah dengan bangunan Ka’bah al-Musyarofah dengan bentuknya yang asli yang dibangun oleh Badullah bin Zuber mengutif keterangan Nabi yang menyebutkan tentang bentuk Ka’bah pada zaman Ibrahim Alaihi Salam

Kedua : Kaum Yabusiah dan Kananiyah

Bangsa Yabusiah adalah bangsa pertama tercatat sejarah yang mendiami al-Quds. Sebelumnya belum ada tulisan atau catatan yang mengungkap hal ini. Dalam kajian ilmu sejarah tentang situs-situs sebagai satu-satunya sumber untuk mengungkap temuan tulisan dan dimulainya sejarah manusia, yaitu sebelum enam ribu tahun sebelum masehi disebutkan bangsa Yabusiah bermigrasi dari tempat asalnya di Semenanjung Arab dan menetap di kota Yerusalem dan sekitarnya. Maka dikenallah wilayah Palestina dengan wilayah Yabusiah yang menyebutkan ibukotanya di kota Al-Quds yang saat itu dikenal dengan nama kota Yabus atau Oursalm.

Bersamaan dengan bangsa Yabusiah ini, berimigrasilah sejumlah suku dari semenanjung Arab ke Palestina. Diantaranya suku Finokiyo yang menetap di pedalaman bangsa Kan’an Arab. Mereka tinggal di bagian utara Palestina dan membangun 200 kota di Palestina. Yang paling terkenal adalah kota Yabusiah atau Al-Quds. Seperti Nablus yang suka disebut Shakim dan Kholil yang suka disebut Hebron. Di Palestina hidup juga bangsa Amor yaitu suku bangsa Arab yang mempunyai peran ratusan tahhun dalam memakmurkan kota Al-Quds.

Perlu disebutkan di sini bahwa semua pemerintah Yanbusiah yang menguasai Al-Quds, dulunya sebagai penyembah berhala. Dari sini bukan berarti kita bangga bahwa yang pertama kali mendiami Al-Quds adalah bangsa Arab, tetapi untuk membantah klaim yahudi bahwa merekalah yang penduduk asli Al-Quds. Merekalah yang pertama kali memakmurkan kota Al-Quds. Bukti ini menunjukan bangsa bangsa Arab sudah mendiami al-Quds lebih dari yahudi sekitar 1500 tahun sebelumnya. (asy)


Sejarah Jerusalem   Jerusalem dalam bahasa Yahudi (Hebrew) Yerushaláyim, juga dulu ada yg menyebut Tsiyown atau Zion, atau dalam masa Romawi disebut Ilya atau Aelia Capitolina, kemudian dalam bahasa Arab dikenal juga sebagai: al-Quds atau Baitul Maqdis [al-Sharif], "The Holy Sanctuary" merupakan kota tua penuh dengan cerita sejarah kontroversi dari sejak zaman purba hingga kini yang melibatkan 3 agama samawi besar di dunia yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Kontroversi ini berpusat pada satu titik di dalam kota Jerusalem yaitu: Kubah As Sakra atau Dome of Rock di dalam kawasan Masjidil Aqsa, yang mana di dalamnya terdapat batu besar.    Menurut agama Islam di Masjidil Aqsa inilah Rasulullah SAW melakukan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Menurut agama Nasrani, Jacob (Nabi Yakub) pernah tidur di batu besar, yg kini berada dalam Dome of Rock tsb, dan bermimpi melihat tangga menuju langit. Agama Nasrani pun meyakini bahwa di batu itulah tempat Abraham (Nabi Ibrahim) mengurbankan anaknya yaitu Ishak (yg kita yakini anak yg diqurbankan adalah Ismail dan tempatnya di Makah). Sementara menurut orang-orang Yahudi meyakini bahwa Luh-luh Nabi Musa (kitab Taurat yg asli), yg dulu pernah hilang, berada tepat di bawah Dome of Rock. Dan orang-orang Yahudi meyakini bahwa Jerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka yg dinyatakan melalui Nabi Musa, sehingga mereka meyakini bahwa mereka punya hak penuh atas tanah Jerusalem tersebut. Sementara bangsa Arab Palestina meyakini bahwa mereka adalah penduduk asli dari tan



Ketiga : Heksoso dan Faroinah

Pada tahun 1774 SM bangsa Heksoso menyerang kota Al-Quds. Mereka terdiri dari sejumlah suku dari Mesir dan Syam. Mereka membentuk pemerintahan Firaun di Al-Quds dan sekitarnya.

Sementara itu, menurut sejumlah sumber sejarah menyatakan, Nabi Ibrahim AS sejaman dengan pemerintahan Heksoso ini. Nabi Ibrahim memasuki masuk Masjid Al-Aqsha dan sejumlah kota di baitul Maqdis.

Masih dalam pemerintahan Heksoso ini, munculah Nabi Yakub dan Nabi Ishaq alaihima salam. Nabi Ya’kub yang juga dikenal dengan nama Israel kemudian beranak pinak di wilayah selatan Al-Quds, sekarang Nagev. Kemudian keturanan nabi Ya’kub atau Bani Israel ini berimigrasi mengikuti Nabi Yusuf ke Mesir, sebagaimana disebutkan al-Qur’an. Keturanan Nabi ya’kub atau bani Israel tinggal di Mesir tak kurang dari 150 tahun di bawah pemerintahan Heksoso yang memberikan kebebasan beragama pada rakyatnya. Kerajaan Heksoso akhirnya melemah dan diganti dengan dinasti Fir’aun. Kemudian mereka mengusir dinasti Heksoso dari Al-Quds dan menguasai kota tersebut di bawah pemerintahan Firaun yang terkenal dengan kebengisanya dalam bidang agama dan politik. Kerajaan Firaun kemudian menunjuk pemerintahan tersendiri di Al-Quds yang loyal pada kerajaan Firaun dengan mengangkat seorang gubernur.

Sejalan dengan sunnatullah, kerajaan Fir’aun mulai melemah dan wilayahnya semakin menyempit, akibat tindakannya yang anti ras serta perampasan terhadap harta milik warga. Maka mulailah keturunan bangsa Yabusiah dan Kananiyah memanfaatkan kelemahan ini. Mereka menyiapkan persenjataan dan kekuatan mereka untuk menguasai kembali Al-Quds dan merebutnya dari kekuasaan dinasti Fir’aun.

Saat itu, bangsa Yabusiah dan Kananiyah terkenal dengan kekuatan dan kebengisanya. Seperti tergambar dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 22, “Mereka berkata: "Hai Musa, Sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, Sesungguhnya Kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. jika mereka ke luar daripadanya, pasti Kami akan memasukinya". (asy)

Keempat : Bani Israel dan Kota Al-Quds

Nabi Musa AS diutus kepada kaum Bani Israel di Mesir, menjelang berakhirnya dinasti Fir’aun. Sebelumnya, kerajaan Fir’aun mengintimdasi dan menganiaya bangsa Bani Israel. Karena mereka melihat diantara kaum Bani Israel ada yang menjadi mata-mata atau orang dekat kerajaan Heksos yang digulingkan oleh dinasti Fir’aun dan berhasil menguasainya lebih dari 200 tahun yang lalu.

Sebenarnya da’wah Nabi Musa tidak hanya kepada kaum Bani Israel atau bangsa Mesir saja. Sebab bibit keiamanan masih tampak di kalangan Bani Israel ketika itu. Yang tampak jelas dari da’wah Nabi Musa kepada kaum Bani Israel adalah ajakanya kepada mereka untuk keluar dari Mesir menuju tanah suci Al-Quds. Sebagaimana firman Allah SWT. “ Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (QS. AL-Maidah 21). Da’wah Nabi Musa pun tampak dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang menceritakan tentang Bani Israel. Diantaranya, “wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, Maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku" (Al-A’raf ayat 105).

“Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada Kami, pasti Kami akan beriman kepadamu dan akan Kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu"(al-A’raf 134).

“Maka datanglah kamu berdua kepada Fir'aun dan Katakanlah olehmu: "Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam. Lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami". (as-Syuara 16-17)

Allah menghendakai dari kaum ini yang sebelumnya sudah beriman, namun pada saat itu mereka mendapatkan penganiayaan dari Fir’aun, untuk berangkat ke Tanah Suci (Baitul Maqdis) yang saat itu dikuasai “bangsa keras”. Atau kaum raksasa sebagaimana disebutkan sejarah, agar kaum Bani Israel menempati tempat mereka. Dalam bahasa sekarang Bani Israel diperintahkan membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan “bangsa raksasa”. Apakah mereka melakukanya ??.

Walau sejumlah ayat dan mu’jizat Allah perlihatkan kepada mereka. Seperti membelah laut, membinasakan musuhnya. Menurunkan kepada mereka Syari’at Lauhul Mahfudz, menurunkan Manna dan Salwa (sejenis makanan dan minuman), menakuti mereka dengan diangkatnya gunung di atas mereka. Dimatikan dan dihidupkanya kembali sebagian mereka. Betapa besarnya penderitaan akibat intimidasi Fir’aun dan diselamatkanya mereka dari kejaran Fir’aun. Maka Allah menginginkan agar mereka menetap di Baitul Maqdis, akan tetapi mereka menolaknya, karena takut dari bangsa raksasa tadi. Mereka juga tidak mau berperang dengan Nabi Musa AS. Maka Allah memberikan hukuman kepada mereka dan mengharamkan Baitul Maqdis kepada mereka. Para ulama sepakat bahwa wilayah yang dijadikan tempat hukuman mereka adalah padang Sinai, dekat dengan tempat dibinasakanya Fir’aun, bagian sebelah kiri Laut Merah yang menghadap ke Sinai.

Ditempat itulah Allah memberikan hukuman kepada keturunan Bani Israel yang disebut sebagai para pembangkang. Ayat-ayat Allah yang agung tidak membuat mereka meninggalkan ketakaburanya. Agar memunculkan dari mereka sebuah generasi baru yang beriman dan berhak masuk Baitul Maqdis.

Berdasarkan sejumlah sumber sejarah mengatakan, tahun 1186 munculah seorang yang bernama Yusya bin Nun dari Bani Israel yang mengajak mereka menuju Baitul Maqdis. Adapun Nabi Musa telah wafat sebelum pase ini. Pemuda Yusya bin Nun ini memimpin Bani Israel menuju Palestina, melalui wilayah Timur Sungai Yordan. Akan tetapi mereka tidak pernah masuk Baitul Maqdis selamanya. Mereka melintasi sungai Yordan menuju Jericho dan menetap di sana beberapa tahun saja. Ketika Al-Qur’an mengisyaratkan, “dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud dan Katakanlah: "Bebaskanlah Kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik".

Dengan wafatnya Yusya bin Nun, maka terjadilah perselisihan di antara para uskup yang tinggal di Jericho. Maka lemahlah keiamanan mereka hingga dikuasai kembali oleh bangsa raksasa dan mengalami kembali penyiksaan dan penganiayaan.

Di pihak bangsa raksasa, ada seorang raja yang bernama “Jalut” atau Goliat yang memerintah Palestina dan menetap di Al-Quds, sebagaimana berbagai sumber Yahudi dan kitab sejarahnya. Dari sini munculah keyakinan bahwa Yahudi tidak pernah menyentuh Al-Quds selamanya. Mereka hanya tinggal di Jericho saja.

                  Sejarah Jerusalem   Jerusalem dalam bahasa Yahudi (Hebrew) Yerushaláyim, juga dulu ada yg menyebut Tsiyown atau Zion, atau dalam masa Romawi disebut Ilya atau Aelia Capitolina, kemudian dalam bahasa Arab dikenal juga sebagai: al-Quds atau Baitul Maqdis [al-Sharif], "The Holy Sanctuary" merupakan kota tua penuh dengan cerita sejarah kontroversi dari sejak zaman purba hingga kini yang melibatkan 3 agama samawi besar di dunia yaitu: Islam, Yahudi dan Nasrani. Kontroversi ini berpusat pada satu titik di dalam kota Jerusalem yaitu: Kubah As Sakra atau Dome of Rock di dalam kawasan Masjidil Aqsa, yang mana di dalamnya terdapat batu besar.    Menurut agama Islam di Masjidil Aqsa inilah Rasulullah SAW melakukan Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Menurut agama Nasrani, Jacob (Nabi Yakub) pernah tidur di batu besar, yg kini berada dalam Dome of Rock tsb, dan bermimpi melihat tangga menuju langit. Agama Nasrani pun meyakini bahwa di batu itulah tempat Abraham (Nabi Ibrahim) mengurbankan anaknya yaitu Ishak (yg kita yakini anak yg diqurbankan adalah Ismail dan tempatnya di Makah). Sementara menurut orang-orang Yahudi meyakini bahwa Luh-luh Nabi Musa (kitab Taurat yg asli), yg dulu pernah hilang, berada tepat di bawah Dome of Rock. Dan orang-orang Yahudi meyakini bahwa Jerusalem adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka yg dinyatakan melalui Nabi Musa, sehingga mereka meyakini bahwa mereka punya hak penuh atas tanah Jerusalem tersebut. Sementara bangsa Arab Palestina meyakini bahwa mereka adalah penduduk asli dari tan


Kaum Bani Israel saat itu sangat iri kepada kerajaan Goliat dan meminta kepada nabinya untuk memohon kepada Allah agar menurunkan seseorang raja agung seperti Goliat yang dapat mengembalikan kemuliaan mereka. Maka dijawab oleh nabi mereka, apakah kalian akan taat kepada raja baru tersebut ??. mereka menjawab iya betul. Mereka mengatakan, bagaiamana kami tidak taat kepadanya, sedang kami saat ini dalam keadaan terhina. Dialah (raja dari Bani Israel) yang akan mengangkat kami dari kehinaan.

Adapun ketika Allah pilihkan bagi mereka Nabi Dawud AS, mereka berpaling. Mereka tidak mau taat pada hukum-hukumnya. Secara rinci kisah mereka diceritakan dalam surat Al-Baqoroh, dimana terjadinya pertempuran antara kaum Bani Israel dengan bangsa raksasa di dekat Jericho, yang paling kuat menurut pendapat para ulama. Disana terbukti penyelewengan Bani Israel terhadap pemimpinya. Pertempuran berakhir dengan terbunuhnya pimpinan Raksasa oleh tangan Nabi Dawud AS. Peristiwa inilah sebagai cikal bakal masuknya yahudi dalam sejarah kota Al-Quds.

Dengan kemenangan ini, maka berpindahlan pemerintahan Al-Quds dari bangsa raksasa kepada Bani Israel, untuk pertama kalinya pada tahun 995 SM. Nabi Dawud kemudian memasuki kota Al-Quds dan membangun kerajaanya di sana. Menurut bukti-bukti sejarah, Nabi Dawud membangun istananya dekat dengan kota Silwan, dekat dengan mata air di ujung bagian luar Kota Lama.

Maka berlakulah pemerintahan Bani Israel di Al-Quds selama kurang lebih 70 tahun atau 80 tahunan. Kemudian lahirlah Nabi Sulaiman AS dan berhasil memperbaharui bangunan Masjid Al-Aqsha sebagaimana diceritakan Rasulallah SAW, dalam haditsnya.

Dari Abdullah bin Amer, semoga Allah meridhoi kedunya, dari Nabi Muhammad SAW. Beliau bersbada, “Ketika Nabi Sulaiman bin Dawud selesai membangun Baitul Maqdis, maka ia meminta tiga perkara kepada Allah SWT. Pemerintahan yang sesuai dengan hukum Allah, kerajaan yang tidak bandinganya setelahnya dan tidak ada seorangpun yang datang ke Masjid ini kecuali untuk shalat di dalamnya, maka pasti keluar semua dosa-dosanya sebagaimana ia dilahirkan. Nabi Muhammad SAW berkata, adapun dua permintaan dikabulkanya, dan aku berharap yang ketiganya diberikan kepadaku. Perlu disebutkan di sini bahwa bangunan Sulaiman adalah memperbaikinya atau merenovasinya. Adapun pendiri bangunan pertama adalah Nabi Adam AS berdasarkan wahyu yang diturukan Allah kepadanya. (asy)


Referensi


infopalestina.com / suarapalestina.com