Thursday, June 14, 2018

Sejarah Lebaran atau Idul Fitri

  Sejarah Lebaran atau Idul Fitri     Lebaran atau Idul Fitri akan segera tiba. Kegembiraan segera meluap bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, apa arti dan makna lebaran idul fitri sesungguhnya?  Menurut seorang budayawan sekaligus agamawan asal Pati Habib Anis Sholeh Ba'asyin:  "Idul Fitri makna awalnya adalah perayaan kembali dalam kehidupan sehari-hari manusia, setelah selama Ramadhan bertapa”.  Tampaknya makna itu sejalan dengan makna awal kata Lebaran dalam bahasa Indonesia atau kata bakdo dalam tradisi Jawa. Keduanya bermakna sama, yaitu selesai. Bagi umat Islam, mestinya ini berarti mereka sudah keluar dari jihad besar melawan diri sendiri yang seharusnya mampu dimenangkan umat Islam. Apabila seorang Muslim mampu menyelesaikan Ramadhan dan memenangkan peperangannya dengan diri, maka seharusnya ini akan menciptakan umat Islam yang lebih baik dan produktif dalam mengelola sejarah. Dan, itu sekaligus berarti bangsa Indonesia akan jauh lebih baik dari sebelumnya.  Menyikapi Makna Lebaran Idul Fitri Dalam Islam  Menyikapi makna idul fitri dalam Islam. Bagaimana seharusnya menyambut lebaran yang sebentar lagi akan segera tiba. Iya sebentar lagi seluruh umat muslim akan merayakan hari kemenangan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Di Indonesia saat menyambut perayaan lebaran identik dengan Ketupat dan mudik lebaran. Menyambung silaturahim bertemu dan berkumpul

Lebaran atau Idul Fitri akan segera tiba. Kegembiraan segera meluap bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, apa arti dan makna lebaran idul fitri sesungguhnya?

Menurut seorang budayawan sekaligus agamawan asal Pati Habib Anis Sholeh Ba'asyin:

"Idul Fitri makna awalnya adalah perayaan kembali dalam kehidupan sehari-hari manusia, setelah selama Ramadhan bertapa”.


Tampaknya makna itu sejalan dengan makna awal kata Lebaran dalam bahasa Indonesia atau kata bakdo dalam tradisi Jawa. Keduanya bermakna sama, yaitu selesai. Bagi umat Islam, mestinya ini berarti mereka sudah keluar dari jihad besar melawan diri sendiri yang seharusnya mampu dimenangkan umat Islam. Apabila seorang Muslim mampu menyelesaikan Ramadhan dan memenangkan peperangannya dengan diri, maka seharusnya ini akan menciptakan umat Islam yang lebih baik dan produktif dalam mengelola sejarah. Dan, itu sekaligus berarti bangsa Indonesia akan jauh lebih baik dari sebelumnya.


Menyikapi Makna Lebaran Idul Fitri Dalam Islam


Menyikapi makna idul fitri dalam Islam. Bagaimana seharusnya menyambut lebaran yang sebentar lagi akan segera tiba. Iya sebentar lagi seluruh umat muslim akan merayakan hari kemenangan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Di Indonesia saat menyambut perayaan lebaran identik dengan Ketupat dan mudik lebaran. Menyambung silaturahim bertemu dan berkumpul dengan kerabat, saudara dan sanak keluarga tercinta, sambil menikmati hidangan ketupat lebaran. Bagi-bagi rejeki atau bagi-bagi THR untuk saudara dan keponakannya.

Indahnya kebersamaan di hari kemenangan. Semua saling memaafkan, saling berbagi memberi kebahagiaan untuk saudara dan keluarganya, berkumpul dalam suasana hati yang fitrah. Inilah makna hari Raya Idul Fitri, kembalinya hati dalam keadaan suci seperti bayi. Setelah satu bulan kita atau seluruh umat muslim menjalankan kewajiban puasa Ramadhan, dengan menahan hawa nafsu, menahan lapar dan haus dalam niat karena Allah. Mengharap ampunan dan rahmat-Nya untuk mendapatkan ridho-Nya.

Dalam 12 bulan Allah memberikan satu bulan bagi seluruh hamba-hamba-Nya yaitu bulan Ramadhan. Untuk hamba-hamba-Nya di beri kesempatan memperbaiki amalannnya. Membersihkan hatinya dari penyakit hati dan hawa nafsu yang merusak amalannya. Iya di bulan Ramadhan Allah banyak memberikan keberkahan dan rahmat-Nya. Di lipat gandakan seluruh amal kebaikan, di limpahkan rejeki untuk hidangan buka dan saur bagi hamba nya. Dan keberkahan dan rahmat lainnya....

Sering kita dengar dari ceramah-ceramah ustad dan ustazah atau dari sumber lainnya yang mengartikan bahwa idul fitri adalah keadaan orang yang kembali suci atau tanpa dosa seperti seorang bayi yang baru lahir.

Apakah benar keadaan kita kembali suci seperti bayi di saat hari raya idul fitri ?

Yuk kita simak arti atau makna yang sebenarnya menurut pengetian bahasa Arab dan pengertian di dalam Hadis.

Idul fitri berasal dari dua kata; id [arab: ﺪﻴﻋ] dan al-fitri [arab: ﺮﻄﻔﻟﺍ]. Id secara bahasa berasal dari kata , aada – ya’uudu [arab: – ﺩﺎﻋ ﺩﻮﻌﻳ], yang artinya kembali.

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah [arab: ﺓﺩﺎﻌﻟﺍ], yang artinya kebiasaan.

Dan Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: – ﺮﻄﻓﺃ ﺮﻄﻔﻳ], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa.

Jika di gabungkan pengertiannya adalah kembali berbuka atau tidak lagi melakukan puasa Ramadhan. Artinya bisa buka atau makan dan minum kapan saja karena tidak lagi melakukan puasa ramadhan. Dan memasuki bulan 1 syawal atau perayaan idul fitri. Yang tiap negara menyambutnya dengan kebiasaan yang berbeda-beda. Atau merayakan dengan berbuka setiap saat, bisa makan dan minum kapan saja dengan sajian makanan di hari lebaran atau hari raya idul fitri. Di Indonesia banyak yang bilang kata fitri dan fitrah itu sama karena kalimat dan pengucapannya hampir sama. Namun sebenarnya pengertian dan maknanya sangat berbeda. pengertian fitri sudah di jelaskan di atas adalah berbuka atau tidak lagi melakukan puasa Ramadhan. Sedangkan makna fitrah adalah kembali suci tanpa dosa. Seperti menurut hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu'Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Dan juga di sebutkan di dalam Al-Quran:

''Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'' (Q.S Al-Ruum ayat: 30)

Jadi fitrah adalah awal mula Allah menciptakan manusia itu adalah dalam keadaan suci tanpa dosa. Jadi sangat jelas bahwa pengertian fitri dan fitrah adalah berbeda. Pemahaman pada umumnya hari raya idul fitri adalah kembali suci seperti bayi itu keliru. Karena apakah kita tahu bahwa amalan ibadah kita sudah sempurna atau di terima oleh Allah SWT? Tidak di kotori oleh hawa nafsu atau penyakit hati benar-benar ikhlas karena Allah. Tentunya Allah lebih mengetahui.

Yang semestinya harus dilakukan dalam menyikapi makna hari raya idul fitri adalah selalu berdoa, sebagaimana yang di lakukan oleh para sahabat Nabi Saw. mereka saling mendoakan/mengucapkan kalimat “Taqobalallahu minna waminka (waminkum), waja'alana minal 'aidin wal faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima amaliyah ramadhan saya dan ramdhan anda / kalian, dengan demikian kita akan menjadi orang yang kembali (kepada agama) dan orang yang berbahagia karena telah beroleh kemenangan ''Semoga amalan-amalan di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan di terima oleh Allah Swt. Dan jangan merasa diri kita sudah sempurna, agar terhindari dari sifat sombong, ujub, riya' atau penyakit hati lainnya. Yang utama adalah Tetap menjaga hati dalam keikhlasan dan kesabaran, tetap istiqomah di dalam ketaatan. Semoga kita dapat menjaga fitrah Allah untuk kesucian hati kita di dalam redho-Nya. Aamiin ya Robbal'aalamiin”.

  Sejarah Lebaran atau Idul Fitri     Lebaran atau Idul Fitri akan segera tiba. Kegembiraan segera meluap bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, apa arti dan makna lebaran idul fitri sesungguhnya?  Menurut seorang budayawan sekaligus agamawan asal Pati Habib Anis Sholeh Ba'asyin:  "Idul Fitri makna awalnya adalah perayaan kembali dalam kehidupan sehari-hari manusia, setelah selama Ramadhan bertapa”.  Tampaknya makna itu sejalan dengan makna awal kata Lebaran dalam bahasa Indonesia atau kata bakdo dalam tradisi Jawa. Keduanya bermakna sama, yaitu selesai. Bagi umat Islam, mestinya ini berarti mereka sudah keluar dari jihad besar melawan diri sendiri yang seharusnya mampu dimenangkan umat Islam. Apabila seorang Muslim mampu menyelesaikan Ramadhan dan memenangkan peperangannya dengan diri, maka seharusnya ini akan menciptakan umat Islam yang lebih baik dan produktif dalam mengelola sejarah. Dan, itu sekaligus berarti bangsa Indonesia akan jauh lebih baik dari sebelumnya.  Menyikapi Makna Lebaran Idul Fitri Dalam Islam  Menyikapi makna idul fitri dalam Islam. Bagaimana seharusnya menyambut lebaran yang sebentar lagi akan segera tiba. Iya sebentar lagi seluruh umat muslim akan merayakan hari kemenangan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Di Indonesia saat menyambut perayaan lebaran identik dengan Ketupat dan mudik lebaran. Menyambung silaturahim bertemu dan berkumpul

SEJARAH, MAKNA DAN FILOSOFI KETUPAT DALAM TRADISI LEBARAN


Arti dan Makna Filosofi Ketupat di Tanah Jaw
a

ketupat tidak lepas dari perayaan Idul Fitri. Dalam perayaan Idul Fitri, tentunya di situ ada satu hal yang tidak pernah pisah dari perayaan Ketupat Lebaran. Istilah tersebut telah menjamur di semua kalangan umat Islam terutama di pulau Jawa.

Ketupat atau kupat sangatlah identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Buktinya saja di mana ada ucapan selamat Idul Fitri tertera gambar dua buah ketupat atau lebih. Apakah ketupat ini hanya sekedar pelengkap hari raya saja ataukah ada sesuatu makna di dalamnya?

Sejarah Ketupat


Adalah Kanjeng Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut BAKDA KUPAT tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.

Arti Kata Ketupat


Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.

Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa.

Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Laku Papat


Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.

Empat tindakan tersebut adalah1.Lebaran. 2.Luberan. 3.Leburan. dan 4. Laburan.

Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan

Lebaran


Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan

Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.

Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat Islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan


Maknanya adalah habis dan melebur.Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan


Berasal dari kata labur atau kapur.Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.


Filosofi Ketupat


1. Mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

2. Kesucian hati.

Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

3. Mencerminkan kesempurnaan.

Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak Idul Fitri.

4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang “KUPA SANTEN“, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten

Betapa besar peran para Wali dalam memperkenalkan agama Islam dengan menumbuhkembangkan tradisi budaya sekitar, seperti tradisi lebaran dan hidangan ketupat yang telah menjadi tradisi dan budaya hingga saat ini.

Secara umum ketupat berasal dan ada dalam banyak budaya di kawasan Asia Tenggara. Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa.

Makanan khas yang menggunakan ketupat, antara lain kupat tahu (Sunda), katupat kandangan (Banjar), Grabag (kabupaten Magelang), kupat glabet (Kota Tegal), coto makassar (dari Makassar, ketupat dinamakan Katupa), lotek, serta gado-gado yang dapat dihidangkan dengan ketupat atau lontong. Ketupat juga dapat dihidangkan untuk menyertai satai, meskipun lontong lebih umum.

Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Filipina juga dijumpai bugnoy yang mirip ketupat namun dengan pola anyaman berbeda.[1] Ada dua bentuk utama ketupat yaitu kepal bersudut 7 (lebih umum) dan jajaran genjang bersudut 6. Masing-masing bentuk memiliki alur anyaman yang berbeda. Untuk membuat ketupat perlu dipilih janur yang berkualitas yaitu yang panjang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

Di antara beberapa kalangan di Pulau Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam jimat. Ada masyarakat yang memegang tradisi untuk tidak membuat ketupat di hari biasa, sehingga ketupat hanya disajikan sewaktu lebaran dan hingga lima hari (Jawa, sepasar) sesudahnya. Bahkan ada beberapa daerah di Pulau Jawa yang hanya menyajikan ketupat di hari ketujuh sesudah lebaran saja atau biasa disebut dengan Hari Raya Ketupat.

Di pulau Bali, ketupat (di sana disebut kipat) sering dipersembahkan sebagai sesajian upacara. Selain untuk sesaji, di Bali ketupat dijual keliling untuk makanan tambahan yang setaraf dengan bakso, terutama penjual makanan ini banyak dijumpai di Pantai Kuta dengan didorong keliling di sana.

Tradisi ketupat (kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat. Asilmilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan lebaran sebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan.


MAKNA LEBARAN KETUPAT BAGI ORANG JAWA


Lebaran ketupat merupakan salah satu hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan Islam. Lebaran ketupat atau yang dikenal dengan istilah lain syawalan sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di berbagai daerah, dari mulai Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan dan lainnya. Lebaran ketupat disemua daerah yang melaksanakannya, pelaksanaannya sama yaitu pada hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri. Lebaran ketupat hanya bisa dijumpai di masyarakat Indonesia dengan tujuan pelaksanaannya sama seperti tujuan berhari Raya Idul Fitri, yaitu saling mema’afkan dan bersilaturahim. Istilah saling mema’afkan ini di kalangan masyarakat Indonesia lebih terkenal dengan sebutan “Halal Bihalal”.

Tradisi lebaran ketupat yang diselenggarakan pada hari ke tujuh bulan syawal juga merupakan tradisi khas Indonesia yang biasa disebut sebagai “hari raya kecil” setelah melakukan puasa syawal selama 6 hari atau puasa kecil dibandingkan dengan Idul Fitri yang didahului puasa Ramadhan selama 1 bulan. Sesuai dengan sunnah nabi, setelah memperingati Idul Fitri, umat Islam disunnahkan puasa selama 6 hari, yang bagi umat Islam di Indonesia kemudian diperingati sebagai Lebaran Ketupat atau Syawalan.

Tradisi lebaran ketupat awal mulanya berasal dari orang Jawa, kemudian tradisi ini menyebar ke seluruh pelosok nusantara yang dibawa oleh orang Jawa sehingga menjadi tradisi yang menasional. Makna tradisi lebaran ketupat ini sangat dalam sekali bagi orang Jawa, mengandung filosofis kehidupan yang berharga.

Dalam makalah ini akan kami bahas mengenai asal mula tradisi lebaran ketupat di Jawa, makna filosofi yang terkandung di dalamnya dan perkembangan tradisi lebaran ketupat dari masa ke masa hingga sekarang ini.


MAKNA ISTILAH LEBARAN DAN KETUPAT


1. Lebaran


Lebaran merupakan istilah yang sering dipakai masyarakat dalam menyambut hari Raya Idul Fitri. Lebaran sendiri berasal dari akar kata bahasa Jawa “Lebar” yang berarti selesai, sudah berlalu. Maksud kata “lebar” disini adalah sudah berlalunya bulan Ramadhan, selesainya pelaksanaan ibadah puasa wajib pada bulan Ramadhan hingga tibalah waktunya masuk bulan Syawal. Pada awal bulan Syawal inilah dilaksanakan Hari Raya Idul Fitri, orang Jawa biasa menyebutnya dengan istilah “Riyaya” atau “Badha”. Riyaya merupakan istilah untuk lebih mempersingkat kata hari raya sedangkan istilah badha berasal dari Bahasa Arab dari akar kata ba’da yang berarti setelah, selesai. Kata badha maupun lebaran mempunyai persamaan arti, yaitu selesainya pelaksanaan ibadah puasa, maka tibalah waktunya berhari raya Idul Fitri. Istilah lebaran sudah menjadi istilah nasional, yang diartikan oleh masyarakat Indonesia sebagai Hari Raya Idul Fitri. 

2. Ketupat


Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara berbahan dasar beras yang dibungkus dengan selongsong terbuat dari anyaman daun kelapa (janur). Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa. Makanan ini sudah menjadi makanan khas masyarakat Indonesia dalam menyambut hari Raya Idul Fitri. Ada dua bentuk ketupat yaitu kepal (lebih umum) dan jajaran genjang. Masing-masing bentuk memiliki alur anyaman yang berbeda. Untuk membuat ketupat perlu dipilih janur yang berkualitas yaitu yang panjang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Singapura dan Brunei.

Biasanya ketupat disuguhkan dengan opor ayam, rendang dan masakan-masakan khas masing-masing daerah yang mengandung santan. Ketupat sendiri telah berkembang akibat kreatifitas kuliner di beberapa daerah. Beberapa jenis ketupat yang ada saat ini diantaranya adalah :


Ketupek Katan Kapau


Katupek katan yang khas Kapau, yaitu ketupat ketan berukuran kecil yang dimasak dalam santan berbumbu. Ketupat ketan adalah versi rebus dari lemang. Santannya menjadi sampai kental sekali dan merasuk ke dalam ketupat. Ketupat kentan ini bisa dimakan sebagai dessert, tetapi juga bisa dimakan dengan lauk pedas, misalnya gulai itik cabe hijau atau rendang.


Ketupat Glabed


Ada lagi sajian rakyat lain di Tegal yang sangat populer, yaitu Kupat Glabed. Kali ini bukan ketupat dari desa Glabed. Kupat glabed adalah ketupat yang dimakan dengan kuah kuning kental. Glabed sendiri sebenarnya berasal dari ucapan orang Tegal bila mengekspresikan kuah yang kental ini. Glabed-glabed! Ketupatnya dipotong-potong, dibubuhi tempe goreng, dan disiram dengan kuah glabed. Tambahkan sambal bila ingin citarasa pedas. Topping-nya adalah kerupuk mi yang terbuat dari tepung singkong dan taburan bawang goreng. Sebagai lauknya, Kupat Glabed selalu didampingi dengan sate ayam atau sate kerang.


Ketupat Blegong (Tegal)


Kupat Blengong (Kupat Glabed dengan daging Blengong, Blengong=Keturunan hasil perkawinan Bebek dan Angsa)

Ketupat Bongko (Tegal)

Kupat Bongko adalah Ketupat dengan sayur tempe yang telah diasamkan.

2. Ketupat Betawi (Bebanci)


Masakan paling khas dan unik yang dimiliki masyarakat Betawi adalah ketupat bebanci. Sesuai dengan namanya, ketupat bebanci adalah masakan dengan unsur utama ketupat. Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan rempah-rempah. Sayangnya saat ini sudah sangat sulit menemukan penjual ketupat ini.


3. Ketupat Cabuk Rambak (Solo)


Cabuk rambak adalah ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, dan disiram dengan sedikit sambal wijen (dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu digongseng). Ada yang menyukai sambal yang sangat pedas, ada yang menyukai rasa sambal yang gurih. Rasa sambalnya memang sangat khas. Hidangan ini disajikan dengan kerupuk nasi yang disebut karak.

4. Ketupat Tahu/ Tahu Campur (Ketoprak)

Ketupat tahu atau tahu campur atau istilah lain yang digunakan para penjual adalah ketoprak, merupakan makanan khas dari ketupat yang diiris-iris lalu diberi sayuran, irisan tahu goreng, telor rebus serta disiram dengan sambal kacang. Makanan ini dapat dijumpai di daerah jawa tengah secara umum.

ASAL MULA TRADISI LEBARAN KETUPAT

Lebaran ketupat murni berasal dari tanah Jawa, sejak pemerintahan Paku Boewono IV. Sebuah kearifan lokal yang hanya dilakukan di Indonesia. Sama halnya dengan tradisi halal bihalal. Tradisi lebaran ketupat yang disertai dengan acara halal bihalal tidak ditemukan di negara lain selain di Indonesia. Lebaran ketupat ini di masayarakat Jawa dikenal dengan istilah Syawalan, dimana waktunya bertepatan dengan bulan Syawal. Lebaran ketupat juga dinamai dengan istilah Badha Kupat. Lebaran ketupat dilaksanakan tepat pada hari ketujuh pada bulan Syawal.

Masyarakat Jawa dikenal dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Pada masyarakat selain Jawa, setelah sholat Ied mungkin mereka melakukan aktivitas kegiatan seperti hari-hari biasanya. Pada masyarakat Jawa, setelah sholat Ied, mereka biasanya melakukan kegiatan silaturahim ke sanak famili, saudara, tetangga dekat dan sekitar lingkungan mereka. Sehari setelah Hari Raya Idul Fitri atau lebaran, umumnya mereka melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal. Puasa sunnah Syawal dilaksanakan sampai enam hari, setelah itu mereka mengadakan acara halal bihalal (ma’af mema’afkan) dan bersilaturahim dengan kerabat dekat maupun jauh.

Acara silaturahim ini umumnya dilakukan oleh masyarakat Jawa dimana yang muda mengunjungi yang lebih tua. Hal ini mencerminkan pandangan hidup orang Jawa, bahwa orang hidup harus tepa selira, unggah-ungguh (tahu tata krama dan sopan santun). Biasanya yang muda membawa makanan khas ketupat dengan lauk opor ayam yang akan diberikan kepada kerabat yang lebih tua. Makanan ini nantinya akan disantap bersama-sama dengan kerabat. Makanan ketupat inilah yang menjadi ciri khas pada lebaran ketupat, sehingga hampir dipastikan di tiap keluarga masyarakat Jawa akan menghidangkan suguhan ketupat dengan lauknya opor ayam dan sambal goreng setiap lebaran ketupat tiba.

Tradisi lebaran ketupat menyebar ke luar tanah Jawa dibawa oleh orang-orang Jawa yang merantau ke luar pulau, bahkan ke luar negeri. Tradisi lebaran ketupat hingga akhirnya dikenal oleh masyarakat diluar Jawa dan menjadi tradisi yang menasional, hampir di tiap daerah terdapat tradisi yang sejenis dengan tradisi lebaran ketupat tak terkecuali di luar negeri yang ada orang Jawanya.

  Sejarah Lebaran atau Idul Fitri     Lebaran atau Idul Fitri akan segera tiba. Kegembiraan segera meluap bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, apa arti dan makna lebaran idul fitri sesungguhnya?  Menurut seorang budayawan sekaligus agamawan asal Pati Habib Anis Sholeh Ba'asyin:  "Idul Fitri makna awalnya adalah perayaan kembali dalam kehidupan sehari-hari manusia, setelah selama Ramadhan bertapa”.  Tampaknya makna itu sejalan dengan makna awal kata Lebaran dalam bahasa Indonesia atau kata bakdo dalam tradisi Jawa. Keduanya bermakna sama, yaitu selesai. Bagi umat Islam, mestinya ini berarti mereka sudah keluar dari jihad besar melawan diri sendiri yang seharusnya mampu dimenangkan umat Islam. Apabila seorang Muslim mampu menyelesaikan Ramadhan dan memenangkan peperangannya dengan diri, maka seharusnya ini akan menciptakan umat Islam yang lebih baik dan produktif dalam mengelola sejarah. Dan, itu sekaligus berarti bangsa Indonesia akan jauh lebih baik dari sebelumnya.  Menyikapi Makna Lebaran Idul Fitri Dalam Islam  Menyikapi makna idul fitri dalam Islam. Bagaimana seharusnya menyambut lebaran yang sebentar lagi akan segera tiba. Iya sebentar lagi seluruh umat muslim akan merayakan hari kemenangan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H. Di Indonesia saat menyambut perayaan lebaran identik dengan Ketupat dan mudik lebaran. Menyambung silaturahim bertemu dan berkumpul


MAKNA FILOSOFIS LEBARAN KETUPAT

Masyarakat Jawa mempercayai Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan ketupat. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat sesama muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut. Makanan ketupat menjadi simbol dalam masyarakat Jawa, sehingga orang yang bertamu akan disuguhi ketupat pada hari lebaran dan diharuskan memakannya sebagai pertanda sudah rela dan saling mema’afkan.

Di daerah pedesaan, ketupat masih dibuat sendiri oleh tangan-tangan terampil para ibu dan gadis, namun di daerah perkotaan yang sudah sulit untuk memperoleh janur atau daun kelapa yang masih muda, ketrampilan ini sudah hilang dan masyarakat lebih suka membeli selongsong ketupat di pasar atau bahkan membeli dalam bentuk ketupat yang sudah masak. Lalu ketupat tersebut diantarkan kepada sanak saudara sebagai lambang permohonan maaf dan silaturrahmi.


Pada saat hari lebaran ketupat, ketupat yang dijadikan makanan khas pada masyarakat Jawa sebagai simbol bahwa semua orang Jawa mengaku salah (ngaku lepat). Dalam setahun, orang saling berebut ”benar”. Anehnya, dalam suasana Idul Fitri, semua orang saling berebut untuk menyatakan lepat (salah). Sebuah kondisi yang fitrah, yang muda menyampaikan lepat. Namun, yang tua tidak langsung mengiyakan, tetapi dengan diikuti kalimat, ”wong tuwa uga akeh lupute” (orang tua juga banyak salahnya). Hal ini tidak hanya terjadi dalam tatanan keluarga saja, tetapi berlaku juga dalam tatanan struktur pemerintahan. Pejabat golongan strata atau pangkat yang lebih tinggi juga menyampaikan hal ini kepada pejabat yang pangkatnya lebih rendah atau stafnya. Mereka semua mengaku salah.

Banyak makna filosofis yang dikandung dalam makanan ketupat ini. Bungkus yang dibuat dari janur kuning melambangkan penolak bala bagi orang Jawa. Janur artinya sejatine nur (cahaya) yang melambangkan kondisi manusia dalam keadaan suci setelah mendapatkan pencerahan (cahaya) selama bulan Ramadhan. Jadi, makna dari lebaran ketupat adalah kesucian lahir batin yang dimanifestasikan dalam tujuan hidup yang esensial.

Sedangkan bentuk segi empat mencerminkan prinsip “kiblat papat lima pancer”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah. Kiblat papat lima pancer ini, dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia, yaitu amarah, yakni nafsu emosional, aluamah atau nafsu untuk memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah, dan mutmainah, nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini yang ditaklukkan orang selama berpuasa. Jadi, dengan memakan ketupat orang disimbolkan sudah mampu menaklukkan keempat nafsu tersebut. Sebagian masyarakat juga memaknai rumitnya anyaman bungkus ketupat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah mohon ampun dari kesalahan. Beras sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah hari raya.

Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santen yang mempunya makna “pangapunten” alias memohon maaf. Saking dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipakai pada kata-kata ucapan Idul Fitri :

Mangan kupat nganggo santen. Menawi lepat, nyuwun pangapunten.

(Makan ketupat pakai santan, bila ada kesalahan mohon dimaafkan.)

Pada masa lalu, terdapat tradisi unik yang berbau mistis, namun kini sudah jarang ditemukan. Ketupat juga dianggap sebagai penolak bala (jimat), yaitu dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah, biasanya bersama pisang, dalam jangka waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan sampai kering. Masyarakat di daerah tersebut masih memegang tradisi untuk tidak membuat ketupat di hari biasa, sehingga ketupat hanya disajikan sewaktu lebaran dan hingga sepekan sesudahnya. Sedangkan di Bali, ketupat sering dipersembahkan sebagai sesajian upacara.